Analisis Fundamental Analisis Teknikal Education

Mencari Super Stock ala Mark Minervini

A Time to Share 

“If you cannot – in the long run – tell everyone what you have been doing, your doing has been worthless” (Erwin Schrodinger)

Halo.. Lama tak jumpa yah.. Beberapa hari ini aku sempat cukup sibuk dengan berbagai aktivitas yang cukup menyita waktu.

Dan di waktu senggang kali ini, aku ingin sharing tentang hal yang menarik yaitu mengenai salah satu metode yang selalu dilakukan oleh seorang Techno – Fundamentalist yaitu menggabungkan antara Stock Price Cycle dan Earning Maturation Cycle. Mungkin beberapa dari kalian ada yang bertanya, kenapa $ASSA, $WOOD, $DMMX, $WIIM harga sahamnya bisa naik dengan sangat signifikan yah.

Nah, pada tulisan kali ini aku akan membahas salah satu emiten sebagai studi kasus.

Tulisan ini nantinya akan cukup panjang. Jadi siapkan cemilan dan kopi dulu yah..  Maaf yah kalau kalian jadi lelah membacanya 😊

Stock Price Cycle

Sebagaimana kita ketahui bahwa harga saham bergerak dalam sebuah siklus yang terbagi menjadi 4. Menariknya lagi, siklus harga saham ini memiliki kaitan yang cukup erat dengan psikologi market yang terjadi pada saat itu. Mengutip salah satu contoh dari Investopedia.com, kita bisa perhatikan bahwa pergerakan harga saham diawali dari sebuah proses akumulasi. Pada tahap ini, investor akan cenderung merasa skeptis karena pasar cenderung flat (stagnan) dengan probabilitas naik dan turun 50 : 50.

Pada tahap inilah, saham-saham yang memang layak dan menarik sedang dikumpulkan secara bertahap oleh para ‘ikan besar’. Setelah akumulasi selesai, mulailah para ikan besar ini memberikan tanda yang dapat dilihat secara technical yaitu berupa breakout dan umumnya selalu diiringi dengan volume besar.

Mulailah proses mark – up terjadi di mana harga naik dengan cukup signifikan dan koreksi yang terjadi hanyalah minor dan dalam waktu singkat. Koreksi yang terjadi ini sebagai akibat dari aksi para retailer untuk profit taking dalam jumlah kecil dan sekaligus kesempatan bagi ikan besar untuk ambil barang lagi jika dirasa masih kurang. Pada tahap ini, pelaku pasar didominasi oleh perasaan optimis dan demand cenderung naik hingga pada akhirnya berujung pada euphoria.

Semua orang merasa harga saham tidak akan bisa turun dan berlomba-lomba untuk terus memburu saham tersebut. Jika ada penurunan harga, maka hal tersebut dianggap sebagai sebuah kesempatan untuk beli di harga murah. Kalau boleh dibilang hampir semuanya berada pada fase Full Power – Full Margin (semua dana dingin dipakai plus pinjaman dari sekuritas).

Dan pada akhirnya harga yang terus turun tersebut tak diikuti dengan kenaikan signifikan. Sebaliknya hanya terjadi kenaikan harga secara minor dan dalam jangka pendek. Di sinilah distribusi yang cukup massif mulai dilakukan oleh ikan besar. Hal ini umumnya akan tergambar dari penurunan harga yang diikuti volume besar. Perasaan denial (menyanggah kalau harga tidak kuat naik) dan justification (pembenaran diri) mulai muncul.

Sebagai akhir cerita, mark down terjadi dan harga saham kian merosot sebagai tanda bahwa pesta telah usai. Tak ada lagi ikan besar yang berperan sebagai strong holders dan di sinilah psikologi pelaku pasar menjadi pesimis.

Stock Price Cycle Source : Investopedia

 

“In real estate, the mantra goes to location, location and location. While, in stock market, it will be earning, earning and earning” – (Mark Minervini)

Setelah membahas tentang Stock Price Cycle , sekarang kita akan berlanjut untuk mengenal lebih jauh tentang Earning Maturation Cycle. Konsep dasar yang melandasi teori ini adalah sebuah perusahaan, harga sahamnya akan melejit didorong oleh pertumbuhan pendapatan dan laba secara berkelanjutan.

Kenapa harga sahamnya bisa melejit? Tentu karena adanya dorongan (demand) yang besar

Kenapa demand  bisa besar? Tentu karena ada ketertarikan dari big institutional investor seperti reksadana, manajer investasi, dana pension, dll..

Apa yang membuat mereka tertarik? Pertumbuhan pendapatan dan laba serta keberlangsungan usaha. Laba perusahaan ini akan tercermin dalam Earning Per Share (EPS).

Itulah kenapa biasanya seorang techno – fundamentalist akan memperhatikan juga bagaimana konsensus analis atas prospek EPS di masa mendatang. EPS’ forecast menunjukkan sifat stock market as a discounting mechanism.

Berikut ini adalah Earning Maturation Cycle :

 

 

Earning Maturation Cycle
Source : Trade Like a Stock Market Wizard

Layaknya stock price cycle yang diawali dari accumulation phase, dalam Earning Maturation Cycle, kita juga akan amati ketika harga saham tersebut masih belum menunjukkan pergerakan yang signifikan dan masih tergolong sebagai value stock.

Seiring dengan berjalannya waktu, tentu kita bisa mengamati dinamika ekonomi dan industry serta bisa mulai membuat estimasi apa saja industry yang sedang diuntungkan berikut perusahaan yang unggul.

Tak hanya itu, aku secara pribadi juga mengamati Press Release yang dikeluarkan oleh perusahaan serta hasil riset analis sebagai pendukung informasi. Mendekati earning season, umumnya akan banyak sekali hasil riset tentang consensus EPS perusahaan. Tak hanya itu, berbagai disclosure perusahaan atas proyek yang sedang dan akan dijalankan juga turut menjadi salah satu bahan pertimbangan dan perhitungan proyeksi.

Dalam hal ini, sekali lagi , kita tidak menjadikan data-data (angka) di laporan keuangan tersebut guna menghitung nilai intrinsic. Namun , seorang techno-fundamentalist akan melihat trend dari earning perusahaan tersebut. Dan mengamati apakah pelaku pasar sudah mulai merespon pertumbuhan earning ini dalam pergerakan harga sahamnya.

Jika kita amati dalam gambar di atas, setelah melewati masa value stock, harga saham yang mengalami lonjakan umumnya memang memiliki performa positif yang membawa surprise (kejutan) bagi pelaku pasar. Jika perusahaan tersebut mampu terus mempertahankan kinerjanya dan market mood juga mendukung, umumnya kenaikan harga saham juga akan berlangsung cukup lama hingga pada akhirnya tingkat earning sudah mencapai puncak dan mulai melandai.

Di situlah terjadi EPS Momentum Loss. Biasanya juga kondisi ekonomi secara makro dan mikro cenderung stagnan dan kurang bergairah sehingga memengaruhi kinerja perusahaan pula. Sama halnya dengan stock price cycle yang berujung pada penurunan setelah peak (euphoria), earning maturation cycle pun juga demikian.

Hanya saja point utama yang membedakan keduanya adalah stock price cycle sifatnya lebih leading dan earning cycle adalah konfirmatornya. Sekali lagi, karena stock market is a forward looking machine.

“The main key is understanding where we are in the cycle and obtaining the advantage of it..”

Sekarang saatnya kita belajar bagaimana mengkombinasikan keduanya. Kali ini, aku akan mengambil satu studi kasus yaitu $ASSA.

ASSA adalah perusahaan layanan transportasi terbesar di Indonesia dan memiliki beberapa lini bisnis, antara lain jasa penyewaan kendaraan korporasi transportasi logistic , layanan pengemudi, lelang otomotif, jual beli kendaraan online, hingga pengiriman parsel.

Dan tentu kita semua sama-sama memahami bahwa pada kejatuhan pasar di bulan Maret kemarin , tidak ada satu pun saham yang bisa selamat dari 6x trading halt yang dialami oleh $IHSG, tak terkecuali ASSA.

Seiring berjalannya waktu, mulai terbentuk kebiasaan baru di kala pandemi yaitu Work and Study from Home yang mendorong seseorang untuk secara impulsive melakukan online shopping. Apalagi para e-commerce tak segan-segan memberikan berbagai penawaran menarik agar para pelanggan enggan untuk berhenti checkout. Pada akhirnya, hal ini membawa keuntungan tersendiri bagi perusahaan yang menyediakan jasa angkut dan pengiriman, salah satunya yaitu ASSA.

Benar saja. Pada Q3 2020 kemarin, ASSA berhasil membukukan kenaikan pendapatan dari jasa angkut hingga 482% , di saat penyewaan kendaraan hanya tumbuh 1%, logistic 13%, jasa lelang 19% dan penjualan second car malah turun 2%.

Kondisi ini rupanya juga tercermin di pergerakan harga sahamnya.

Sejak menyentuh titik terendahnya pada tanggal 27 Maret 2020 silam di level 276, harga saham ini berhasil melonjak hingga 620% dan mencapai puncaknya di level 1990 pada tanggal 16 Maret 2021.

 

Komparasi Earning & Price
Sumber : LK Perusahaan (Data Diolah)

 

 

Earning acceleration will bring the stock price into a huge price movement. Apalagi kalau aku menelusuri lebih jauh, trend kenaikan penjualan dan EPS ini sudah berlangsung sejak 2018 dan berlanjut hingga 2019. Hal ini pula yang dilakukan oleh Mark Minervini dan membuat beliau bisa mendapatkan saham yang outperform seperti Cisco System (CSCO), Home Depot (HD), Microsoft (MSFT), Apollo Group (APOL) hingga Crocs Inc (CROX).

Kendati begitu , kita tetap tidak boleh terlenan dan hanya menggantungkan kondisi masa lampau semata. Sebagai seorang trader, tetap fokus pada trading plan yang telah dibuat. Senjata pengaman seperti trailing stop sangatlah penting diterapkan apalagi ketika harga sudah masuk ke fase acceleration.

Umumnya, ketika sudah masuk ke fase peak , akan ada yang namanya deceleration dalam hal earning nya dan ini cenderung membuat harga untuk terkoreksi dulu. Kendati begitu, bukan berarti perusahaan berubah menjadi jelek dan tak prospektif lagi. Hanya saja, tak selamanya bisnis perusahaan berada pada growing phase . Suatu saat pasti akan menjumpai mature moment and slowing down. Di sinilah yang menjadi tantangan bagi manajemen untuk terus memacu bisnisnya agar bertumbuh.

Dan sekali lagi, semua hal ini sudah tercermin di pergerakan harga saham. That’s why, Dow called it as Price Discounts Everything .

In short, Mark Minervini memberikan beberapa clue penting tentang perusahaan yang menjadi institutional darling , yaitu :

  • Earning surprise (positive)
  • Accelerating EPS and revenue
  • Expanding margin
  • EPS breakout
  • Strong annual EPS change
  • Turnaround company

Nah, kali ini adalah tugas kita untuk selalu rajin dan konsisten dalam melakukan research guna menemukan saham – saham potensial tersebut.

Semoga artikel kali ini membantu yah..

Have a long weekend dan Selamat Paskah bagi yang merayakan

GBU

 

Syanne 😊

 

 

Related posts

How to train the trader’s mental?

Editor

How To Do A Technical Analysis

admin

5 Pattern Saham Andalan ala Nicholas Darvas

Editor

Leave a Comment