Analisis Makroekonomi Education

-IHSG Kembali Uji Titik Nadir, Investor Kian Khawatir-

Yah sekiranya itulah judul artikel yang selalu banyak dipakai oleh berbagai media dan portal berita online untuk menggambarkan kondisi bursa hari ini.

Memang IHSG kembali melemah dan bahkan terkoreksi cukup dalam di kala beberapa bursa regional lainnya layaknya  Nikkei, Hang Seng dan STI mengalami penguatan.

Banyak orang yang meragukan ‘keajaiban’ stimulus yang digadang-gadang akan membuat laju IHSG akan melesat. Harapan dan pemikiran tersebut memang tak salah , tapi tak bisa dibenarkan juga melihat kondisi yang ada saat ini.

Yuk kita bahas secara tuntas apa yang terjadi secara makro : 😊

  1. Stimulus Jumbo Biden Dikabulkan

Proposal senilai USD 1,9T akhirnya lolos dan disetujui oleh Senat dan hari ini pun telah mendapatkan pengesahan dari Kongres. Tak hanya itu, maksimal tanggal 14 Maret nanti , Biden juga harus menandatangani dan mengesahkan bantuan ini sehingga kucuran dana untuk pengangguran bisa tersalurkan.

Kendati begitu, perlu diakui bahwa pada stimulus kali ini, terdapat beberapa pengetatan yang dilakukah oleh Biden khususnya batasan penghasilan warga yang boleh dan layak mendapatkan bantuan.

“Under the changes agreed to by Biden and Senate Democratic leadership, individuals earning $75,000 per year and couples earning $150,000 would still receive the full $1,400-per-person benefit. However, the benefit would disappear for individuals earning more than $80,000 annually and couples earning more than $160,000” (source : Bloomberg)

Dengan adanya perubahan ini, maka diharapkan bantuan yang disalurkan akan lebih tepat sasaran sehingga akselerasi pemulihan ekonomi juga bisa terjadi.

2. Banjir Likuiditas, US 10 Y Bond Yield & Dollar Nge-Gas, Emas Malah Lemas

Sekiranya itulah 3 frasa singkat yang mendeskripsikan situasi terkini dan semuanya bermula akibat ekspektasi.

Dengan banjirnya USD di tengah masyarakat, kekhawatiran atas ekspektasi inflasi membuat US 10 Y Bond Yield pada akhirnya terdorong naik. Bahkan yield obligasi sempat menyentuh level 1,59%.

Sebenarnya kekhawatiran tersebut bukanlah tak beralasan. Kenaikan US Retail Sales hingga 5,3% ; jumlah penerima gaji yang naik dari 49 ribu jiwa menjadi 379 ribu jiwa dan nilai impor AS di angka US$ 192 M (tertinggi sejak Feb 2020) menjadi sinyal solid atas perbaikan data ekonomi dan kondisi real di AS.

Jika memang ekonomi kian membaik, vaksinasi makin massif , bukan tak mungkin bagi Bank Sentral The Fed untuk melakukan kebijakan ekonomi ekspansif dengan mengurangi pembelian asset (quantitative easing) guna menjaga jumlah uang yang beredar di masyarakat.

Setidaknya hal inilah yang menjadi pemikiran investor dan berujung pada rasa panic berlebihan tersebut.

Sehingga stimulus yang dikucurkan  membuat US 10 Y Bond Yield naik disertai juga USD sebagai safe haven. Di kala USD makin gagah, di situlah Gold dan Rp melemah.

Tapi sekali lagi, masih belum ada tanda bahwa semua kekhawatiran tersebut tercermin di kondisi saat ini.

3. Tentang Cadev dan Tapering Tantrum

Boleh dibilang inilah masalah utama yang membuat investor (khususnya negara berkembang) merasa cemas. Jika The Fed pada akhirnya secara perlahan menaikkan suku bunga dan inflasi masih cenderung rendah, maka aliran uang dari Emerging Market bisa beralih ke negara maju karena perbedaan peringkat instrument keuangan dan risiko yang dinilai lebih minim.

Berkaca dari 2013 kemarin atas terjadinya Tapering Tantrum , hal ini bisa diantisipasi dengan gendutnya cadangan devisa yang berasal dari sektor real like ekspor dan impor. Bukan karena besar utang yang diajukan.

Sedangkan yang terjadi di Indonesia adalah sebaliknya.

“ Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2021 sebesar US$ 138,8 miliar, meningkat dari  posisi pada akhir Januari 2021 sebesar US$ 138,0 miliar. Kenaikan cadangan devisa ini ditopang oleh penarikan pinjaman pemerintah dan penerimaan pajak.” (source : Kontan)

Memang sih cadev naik dan bahkan memenuhi kebutuhan 10 bulan impor (d I atas standard 3 bulan impor) . Tapi sayangnya kenaikan tersebut didorong oleh pinjaman dan ini membuat cadev terkesan rapuh. Apalagi dengan kekhawatiran taper tantrum, maka Cadev pun akan dianggap tak mampu menopang nilai rupiah .

Lantas, pertanyaan terbesarnya adalah “Akankah Tapering Tantrum terjadi?”

Kalau menurutku, it can happen tapi tidak dalam jk waktu dekat. Why?

  • Inflasi masih di level 1,4% (untuk US) dan untuk naik ke avg 2% tidaklah terjadi dalam waktu sekejap
  • Interest rate masih dijaga di level rendah yaitu 0% – 0,25% sehingga selisih (spread) dengan suku bunga di Indonesia (level 3,5% dan inflasi 1,38%) masih membuat Indonesia lebih menarik
  • Pernyataan Powell masih dominan dovish dan beliau pun masih tetap dengan komitmen awal yaitu Unlimited Quantitative Easing

But, again.. We must anticipate for the next year yah karena pemulihan ekonomi akan menjadi lebih solid 😊

 

Jadi kesimpulannya adalah :

 

  1. Stimulus jumbo yang disahkan berpotensi untuk membuat tingkat inflasi naik (walau tidak langsung signifikan)
  2. Ekspektasi naiknya inflasi membuat investor mendesak bond yield yang lebih tinggi untuk mengimbangi inflasi
  3. Ketika inflasi & bond yield naik, investor cemas The Fed akan melakukan tapering tantrum dan mulai menaikan suku bunga serta memperketat kebijakan fiskal
  4. Kalau hal ini terjadi , maka pemulihan ekonomi bisa terhambat dan aliran dana asing keluar dari Emerging Market, termasuk Indonesia.
  5. Tapi buatku selama inflasi <2% , maka scenario 1-4 tidak akan terjadi. Ketika inflasi US meningkat ke > 2%, maka akan ada aksi tertentu yang diambil The Fed.
  6. Gejolak yang dialami oleh IHSG adalah refleksi investor local atas kondisi global dan investor asing atas pemulihan ekonomi Indonesia yang terkesan lebih lambat dibandingkan negara maju lainnya.

 

Terakhir, gimana IHSG?

Kalau kemarin aku sempat memproyeksikan $IHSG akan naik akibat dorongan stimulus. Well, then I’ve to admit my mistake krn aku lupa untuk mempersiapkan back up plan which is IHSG uji support di 5970 dan 6050 yang bertepatan dengan trend line dan FR 50 dan 61,8.

 

Proyeksi IHSG

However, sekalipun terjadi koreksi, IHSG pun masih melanjutkan trend bullishnya.

Saranku : Stay calm .. Tetap fokus pada saham yang memiliki fundamental bagus, prospek jelas dan valuasi murah (value stock).

Saat ini poultry like $JPFA dan $CPIN udah running. Retail like $RALS dan $MAPI masih belum banyak naik. Grab this chance. Tak ketinggalan emiten konstruksi (PTPP, WSKT) serta semen (SMGR , INTP) dan tol (JSMR) serta transportasi (ASII, IMAS) masih layak untuk diakumulasi.

 

Maaf ya kalau panjang 😊

 

Have a gud day,

 

Syanne

Related posts

How to train the trader’s mental?

Editor

How To Do A Technical Analysis

admin

LIMA – 5 CARA MENENTUKAN SUPPORT AND RESISTANCE

admin

Leave a Comment