Education Psikologi Trading

How to train the trader’s mental?

“Trading is a serious business with real money on the line..”

-Mark Minervini-

Hai.. How’s your day?

Pasti hari ini (17 Feb 2021) kembali menjadi salah satu hari yang kembali melatih mental dan psikologi teman-teman 😊

That’s normal kok.. I ever felt that ..

 

Anw, kalian bisa mampir sebentar yah ke my Stockbit account dan cek dua postingan ku sebelumnya :

https://stockbit.com/post/5726091

https://stockbit.com/post/5716761

 

Inti utama dari kedua postingan tersebut adalah Antisipasi terhadap koreksi IHSG ke level 6200 an pasca sentuh resisten kuat di 6240 – 6300 (yang merupakan barrier utama dari pola double top).

My view on IHSG :

My IHSG’s forecast
  1. Gap telah tertutupi sehingga IHSG sudah melakukan tugasnya
  2. Support kuat masih di 6170 – 6200
  3. Jangan langsung agresif. Indeks masih berpotensi untuk kembali sideways dulu.
  4. Potensi koreksi memang sudah cenderung lebih kecil. Tapi katalis positif masih sangat minim sehingga laju bursa juga agak berat.
  5. Downside risk : Covid yang belum tuntas, vaksinasi terhambat, stimulus masih a lot, implementasi UU Ciptaker dan Omnibus Law bermasalah

But other than that , I do believe 2021 is still  bullish.

Well, dalam tulisan kali ini sebenarnya aku tidak akan membahas tentang stock pick yang potensial. Just wanna share my thought sebelum lanjut lembur.. 😊

One of human nature is avoiding the risk atau bisa dibilang risk averse

Jadi risk averse ini adalah prinsip yang biasanya diterapkan oleh investor yang sifatnya konservatif dan lebih memilih untuk mendapatkan return yang kecil dibandingkan harus menanggung risiko yang besar.

Tidak salah kok karena setiap orang memiliki risk profile masing-masing.

Namun yang menjadi kendala di sini adalah ketika seseorang berusaha untuk mendapatkan return sebesar mungkin namun tanpa mau menyadari risiko yang ada di depan mata.

 

Kenapa tiba-tiba aku mengatakan hal ini?

  1. My profession ‘forces’ me to solve this kind of problems. Hahahah..

 

Banyak sekali trader pemula yang kecanduan untuk beli saham tanpa analisis yang jelas. Hanya berdasarkan bisikan komunitas ataupun sekadar ‘rame’ di running trade.

 

Pasti yang tercetus di benak kita ketika klik buy adalah : Asyik. Nih saham bisa kasih cuan xxx. Mantap nih. Langsung hajar beli aja deh ..

 

Coba tanya ke diri masing-masing, siapa yang ketika klik buy langsung berpikir : Wah.. Saham ini minim risiko .. My trading plan will guide me to minimize the risk

 

Kalau teman –teman tersenyum.. Well, aku tahu kok .. Pasti yang dipikirkan adalah cuan dulu , bukan ?

 

  1. Berawal dari mudahnya beli saham dan bebasnya setiap orang untuk menyatakan diri jadi trader & investor , aku mulai menyadari bahwa pasar saham hanya dianggap tak lebih dari meja kasino. Padahal sejatinya , trading & investing adalah bisnis yang serius karena melibatkan uang .

Tak berhenti sampai di situ. Ketika kesalahan telah terjadi, trader cenderung untuk mencari pembenaran dengan tiba-tiba mencari kualitas fundamental perusahaan. Opsinya 2 :

  • Jika memang bagus, maka seketika itu , statusnya berubah menjadi investor garis keras
  • Jika jelek, maka hati nurani mengatakan ,”Ahh.. gapapa. Kan floating loss . Nanti bisa balik lagi kok” or “Duh beli lagi ah biar avg makin murah. Jadi kalau naik , kan auto cuan.. “

Dan sekali lagi , kalau teman –teman tersenyum , I know what’s on your mind, dude! Wkwkwk..

 

Lantas , salahkah kalau kita jadi trader yang menghindari risiko ? Buatku, iya . Hal itu salah. Risiko tidak bisa dihindari. Tapi harus dihadapi dengan berbagai mitigasi (meminimalisir risiko).

Lalu, apa saja caranya?

 

  1. Ketahui tujuan kita di market bukanlah untuk membuktikan bahwa diri kita benar. Banyak orang selalu berusaha untuk ‘menantang’ market dengan menunjukkan bahwa hasil analisis yang paling benar dan tanpa cela.

Padahal sebenarnya trader & investor harus bereaksi terhadap setiap perubahan yang ada di market. Perubahan itulah yang menjadikan kita memiliki berbagai plan untuk selalu siap siaga

 

  1. Hindari Revenge Transaction

Seringkali trader yang pada akhirnya tidak kuat melihat porto merah dan melakukan cut loss, langsung pada detik itu juga mencari saham lain yang bisa dibeli dan menghasilkan keuntungan berlipat ..

 

Please, don’t do it yah. Hal ini akan benar-benar membuat psikologi menjadi kacau dan pemilihan saham pun kurang objektif.

 

  1. Miliki porto yang ramping

Tujuan  di pasar saham adalah mengembangkan asset dan modal yang dimiliki agar lebih besar secara bertahap . Bukan membuat kita jadi kolektor saham yang bahkan porto nya menyerupai Indeks tertentu.

 

Dengan porto yang ramping , kita akan semakin mengenali ‘ritme’ dari saham pegangan dan risiko pun bisa semakin ditekan.

 

  1. Feel the pain first , then obtain the gain

Bersiaplah untuk ‘diproses’ supaya kita bisa tahu rasa sakit karena break sebuah rules. Dari situ , kita akan bisa tahu apa sebaiknya yang harus dilakukan. Sehingga learning process ini akan menghantarkan kita untuk bisa merasakan gain 😊

 

Remember, every good things will demand more sacrifice!

 

  1. Have a life

Banyak orang yang terlalu menggebu-gebu dan pada akhirnya melupakan the real life 😊

Nggak salah kok untuk menjadi seseorang yang selalu mau belajar. Tapi tetap sediakan waktu untuk menjaga relasi dengan Yang Di Atas , sesama dan orang lain .

 

Make our life is fulfilled.. Hal ini akan menjadikan mental serta psikologi menjadi lebih tenang dan sabar.

 

Mastering our self is the best way to survive in the market ..

 

Dan aku percaya kita semua pasti bisa.

 

May the good things always be with us..

 

 

 

Related posts

Mencari Super Stock ala Mark Minervini

Editor

“Retail Sector : Waiting for Pent-Up Demand to Emerge”

Editor

SERIAL SAHAM – EMPAT JENIS INVESTOR (PART 2)

admin

Leave a Comment