Markets Trading Ideas

2021 – It’s a time for Commodity. What to know more?

2021

Commodity Year is Here. What to know?

Part I

Setelah melalui perjalanan yang cukup berat di 2020, kita semua telah berhasil memasuki tahun yang baru yaitu 2021. Tahun ini dianggap sebagai momentum awal untuk pemulihan, baik dari segi kesehatan maupun juga ekonomi. Kehadiran vaksin dari berbagai negara serta semakin jelasnya jadwal distribusi membuat prospek recovery menjadi semakin solid. Walupun memang masih ada berbagai ketidakpastian yang menghantui, namun setidaknya kita semua mengaminini dan meyakini bahwa ada peluang yang jauh lebih baik di tahun ini dan seterusnya.

As two of Dow Theory’s tennets said that History repeats itself dan Indices must confirm each other, I personally do believe that 2021 is a year of Commodity. Why?

  1. Sektor komoditas adalah bersifat siklikal yang artinya sangat bergantung pada siklus ekonomi di sebuah negara. Ketika negara dilanda krisis dan ekonomi terpuruk, maka komoditas pun demikian. Vice versa, saat ekonomi mulai membaik, maka sektor komoditas juga akan menjadi unggulan.

 

  1. Berdasarkan data masa lampau, setiap kali pasca krisis, maka pada saat itulah sektor komoditas yang menjadi primadona. Hanya saja memang jenis komoditas akan berbeda sesuai dengan kondisi terkini dan juga berbagai sentiment pendorong lainnya.

Gambar 1. Perbandingan Mining Index dan IHSG (www.tradingview.com)

 

Pada grafik di atas, dapat terlihat bahwa memang pergerakan index mining (berisi saham komoditas) sejalan dan searah dengan kondisi IHSG. Krisis 2008 yang amat dalam dan pemulihan 2009 yang luar biasa tergambar jelas pada grafik tersebut.

 

Sehingga jika mengulang dari kisah di masa lalu, tak salah jika memang 2021 dianggap sebagai tahun komoditas. Apalagi jika menganut prinsip Indices must comfirm each other yang artinya 2 indeks tersebut harus menunjukkan arah gerak yang sama sebagai konfirmator arah gerak.

 

  1. Terpilihnya Joe Biden as US’ President mendorong beberapa komoditas tertentu untuk Agenda utama yaitu transisi ke green energy menjadi sebuah katalis positif yang diperkirakan akan membawa efek dalam masa cukup panjang pula bagi beberapa sektor komoditas, khususnya Nickel.

 

Lantas, setelah kita meyakini hal tersebut, pertanyaan utama yang selalu muncul adalah apa saja peluang yang dapat dimanfaatkan yah? Well, secara garis besar terdapat 6 sektor utama yang akan saya bahas secara mendalam yaitu :

Namun demikian, pada kesemapatan kali ini, saya akan bahas dulu untuk Mining (Coal) – ADRO. Untuk sisanya, saya akan tulis setiap hari satu per satu. Sekaligus sebagai langkah awal supaya rajin nulis. Hehehe.. Maklum, aktivitas saya sebagai stock educator cukup padat akhir-akhir ini. 😊

Okey, let’s get to the list..

  1. Mining (Coal)

Tak bisa dipungkiri, batubara menjadi salah top pick yang selalu ada kalau kita bicara masalah komoditas. Hal ini wajar karena memang batu bara menjadi salah satu energy utama untuk menghasilkan listrik, khususnya bagi industri. Tak hanya itu, status quo Indonesia sebagai salah satu eksportir utama batu bara bagi China juga menjadi daya tarik tambahan.

Selain itu, beberapa kebijakan pemerintah yang terbaru juga dianggap memberikan ruang gerak bagi perusahaan batu bara, misalnya royalty 0% untuk gasifikasi, tax holiday, pembebasan PPN dan lain sebagainya menjadi point yang cukup menguntungkan bagi emiten terkait. Tak ketinggalan, seperti yang seringkali saya tekankan di awal bahwa recovery will be the light path of coal export juga. Apalagi saat ini hubungan China dan Australia sedang tidak dalam kondisi yang akur sehingga coal Indonesia lah yang diuntungkan.

 

Gambar 2. Grafik Coal Futures (Monthly)

Pada grafik di atas dapat terlihat bahwa harga komoditas coal telah menguat selama 5 bulan berturut dari titik terendah di level USD 48,93. Jika mengambil titik resisten terdekat di USD 120, sebenarnya sektor coal masih cukup terdiskon valuasinya. Hanya saja , proyeksi kembalinya harga coal ke level tersebut masih belum cukup besar pribabilitasnya.

Mengapa demikian? Kalau melihat gencarnya green energy plan yang ada, maka secara perlahan coal akan mulai dikurangi pemakaiannya (tapi secara bertahap dan pasti butuh waktu lama). Sehingga demand coal juga akan turun dan berimbas ke harga acuan komoditasnya juga. Jadi walaupun masih ada ruang valuasi yang terdiskon, namun upside potential juga tidak akan terlalu besar seperti tahun-tahun sebelumnya.

Lalu, apa saja saham yang menarik dari sektor coal?

  1. PT Adaro Energy Tbk. (ADRO)

Perusahaan pertambangan batu bara ini telah memulai kegiatan bisnis nya sejak tahun 1982 yang ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerjasama Batubara Adaro Indonesia (CCA). Hingga saat ini, model bisnis ADRO telah berkembang cukup luas meliputi Adaro Services, Adaro Power, Adaro Logistics, Adaro Land, Adaro Water hingga Adaro Capital. One good thing that we can catch from this point adalah ADRO merupakan perusahaan yang cukup tangguh dengan diversifikasi bisnis yang beragam. Hal ini cukup baik untuk menjaga kestabilan kinerja emiten.

Pada grafik di atas terlihat bahwa pendapatan ADRO mulai perlahan kembali naik pasca tertekan akibat pandemi. Perbaikan harga coal dan juga diversifikasi bisnis yang dilakukan menjadi daya topang utama. Tak hanya itu, Adaro Logistics berperan cukup besar untuk memperkuat rantai pasok dan menyokong ketersediaan pembangkit listrik serta menjaga biaya distribusi agar tidak membengkak.

Selain itu, saya juga menyoroti valuasi ADRO yang masih boleh dibilang belum terlalu tinggi dan masih ada ruang kenaikan yang menarik.

Gambar 4. PBV Band ADRO (Stockbit)

 

Secara valuasi dengan menggunakan PBV Band, walaupun saat ini ADRO sudah dekat dengan nilai PBV Average nya, namun jika dilihat dari PBV historical di 2018 yang sempat mencapai 1,75x, maka PBV saat ini di level 0,86x masih memberikan ruang upside 103% (namun memang bukan untuk jangka pendek yah).

 

Kalau dihitung dengan menggunakan PBV/share, maka sebenarnya untuk jangka pendek, ADRO masih ada  potensi naik sekitar 18-20% an dihitung dari :

Current Book Value = 54.413 B

Outstanding Shares = 31,99 B

Price = 1700 (dibulatkan)

Dan saat ini ADRO berada di level 1455 yang artinya masih ada peluang yang bisa dimanfaatkan. Lantas, bagaimana dengan view technical nya?

Pada monthly chart ADRO, terlihat bahwa saat ini harga saham mulai tertahan di resisten by MA 50 dan kenaikan terdekat ke 1700 an (bertepatan dengan Book Value/share). Beberapa rejection candle menggambarkan bahwa untuk saat ini ADRO lebih berpotensi untuk koreksi wajar atau bergerak sideways sebelum lanjut naik lagi.

Sedangkan pada daily chart ADRO, terlihat bahwa saat ini harga saham sedang terkoreksi wajar dan memungkinkan untuk mendekati support di level 1400 an. Level ini berpotensi menahan laju harga karena merupakan support horizontal dan bersinggungan dengan MA 50 serta tertahan di salah satu ratio FR sehingga harga bisa mengalami rebound dan melanjutkan trend awalnya yaitu bullish.

Area 1400 an akan menjadi area yang cukup menarik untuk melakukan akumulasi beli bagi trader dengan time frame hold jangka menengah. (disclaimer on yah)

Lantas, bagaimana dengan PTBA? Simak di part selanjutnya yah… 😊

See you soon.. Be right back.. Thanks for reading this article yah..

Related posts

Hello world!

admin

Strategi IHSG 15 Februari 2021 : Titik Krusial Kembali Diuji

Editor

Leave a Comment