Analisis Fundamental Education

SERIAL SAHAM – EMPAT JENIS INVESTOR (Part 1)

SERIAL SAHAM – EMPAT JENIS INVESTOR (Part 1)

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas lebih jauh tentang apa saja macam dari investor dan bagaimana strategi yang digunakan oleh tiap jenis investor? Strategi mana yang paling menguntungkan dan minim risiko? Yuk, kita simak pembahasan berikut ini!!

  • VALUE INVESTOR

Jika Anda mengenal Lho Keng Hong atau Warren Buffett, maka setidaknya pasti pernah mendengar bahwa beliau adalah pakar dari ilmu value investing. Hah? Maksudnya bagaimana? Yap, mereka adalah para kolektor saham-saham yang sedang berjatuhan harganya dan menahan saham tersebut untuk jangka waktu yang cukup lama. Bahkan, Buffett mengatakan bahwa seumur hidup adalah kata yang pas untuk menjawab berapa lama ia akan menahan saham yang dimilikinya. 

Jadi sebenarnya apa yang dimaksud dengan seorang value investor? Value investor adalah mereka yang melakukan pembelian saham ketika saham dengan kinerja yang baik tersebut harganya sedang berada di bawah nilai wajar (undervalued). Strategi ini disebut pula dengan strategi Buy on Weakness (BOW). 

Seorang value investor akan sangat mengamati saham-saham yang memiliki faktor pendapatan (earning/income), pembagian laba (dividen), nilai buku (book value), dan cash flow yang baik, namun sedang diperdagangkan pada harga dan nilai yang terdiskon. Strategi ini mungkin terdengar sederhana, namun jangan salah lho.. Tak banyak orang sabar yang mau menunggu saham tersebut terdiskon nilainya. Dan tak banyak orang sabar pula menunggu perkembangan harga saham tersebut menuju ke level yang jauh lebih tinggi. 

Nah, darimana sih kita bisa melihat bahwa suatu saham harganya sedang terdepresiasi? Indikator utama yang bisa kita gunakan adalah dengan melihat nilai Price Earning Ratio (PER) dan Price Book Value (PBV). Dua indikator ini akan menggambarkan bagaimana sebuah saham dinilai oleh market

PER akan menggambarkan seberapa mahal/murah nilai suatu saham. PER dapat diperoleh dengan cara membagi Harga saham saat ini dengan Earning Per Share (EPS). Kedua yaitu PBV yang akan menginformasikan berapa kali lipat harga suatu saham dibandingkan dengan nilai bukunya. Jadi, semisal ada suatu saham yang memiliki nilai PBV sebesar 2, maka artinya investor bersedia membayar saham tersebut pada harga 2x melebihi nilai buku perusahaan terkait.

Nilai PER dan PBV yang dijadikan patokan juga dapat dibagi menjadi 2 jenis yaitu PER dan PBV (Industry) serta PER dan PBV (Historis). Dengan begitu, maka seseorang akan dapat menilai kewajaran suatu saham baik dengan rekanan perusahaan dalam industry sejenis ataupun dibandingkan dengan data historisnya. 

Buffett ever said, “Price is what you see, value is what you get”. Untuk memperjelas kalimat tersebut, maka lihatlah table ilustrasi di bawah ini :

Saham Harga Saham (Price) EPS PER
A 10.000 500 20
B 1000 20 50

 

Dari tabel tersebut, dapat kita lihat bahwa walaupun saham A, secara harga lebih mahal dibandingkan saham B, namun secara PER, saham A jauh lebih murah 2,5x lipat dibandingkan saham B. Mengapa demikian? Yah, seperti Buffett bilang bahwa harga adalah sesuatu yang tampak namun valuasi adalah hal yang berbeda. 

Lalu, kapan sebenarnya timing yang tepat untuk melakukan pembelian saham dengan metode ini? Yaitu ketika pasar sedang dalam kondisi yang melemah sehingga banyak saham yang harganya terseret turun. Namun, tentu saja kita tidak menginginkan agar pasar setiap hari dalam kondisi yang mengenaskan, bukan? 

Biasanya, tahun-tahun yang diakhir dengan angka 8 akan menjadi tahun penurunan yang amat tajam, layaknya tahun 1998, 2008 dan 2018. Tak jarang pula, jika terdapat sentiment negatif baik dalam skala nasional maupun global yang mampu mengancam posisi Indonesia, maka IHSG juga dalam keadaan terkoyak. Oleh karena itu, manfaatkan momentum tersebut untuk segera mengumpulkan saham yang layak untuk dijadikan investasi. 

  • GROWTH INVESTOR

Seorang dengan mindset sebagai growth investor bisa dibilang suka bermain aman. Mengapa demikian? Yah, karena mereka akan lebih memilih untuk masuk ke saham yang sedang dalam masa pertumbuhan cukup kencang dan tentu saja tidak perlu menunggu waktu yang amat lama untuk melakukan pembelian layaknya value investor. Mereka memiliki prinsip utama, ada harga ada rupa

Strategi ini lebih menekankan pada perkembangan sebuah bisnis yang mengakibatkan performa perusahaan terkait meningkat sehingga mengundang daya tarik yang tinggi bagi para investor yang berminat. Nah, salah satu indikator yang amat dilihat yaitu Return on Equity, Return on Assets serta Growth of Revenue and Profit. Ketiga hal tersebut akan sangat membantu bagi para investor untuk menjatuhkan pilihan saham mana yang ingin dikoleksi. 

Salah satu tokoh yang paling terkenal dengan metode ini yaitu Philip Fisher yang pada akhirnya mampu sedikit demi sedikit memengaruhi Buffett untuk mengubah cara pandangnya dari seorang yang murni berperan sebagai value investor. Berikut ini adalah question check-list yang akan selalu dilakukan oleh para growth investor dalam memilih saham :

 

  1. Apakah perusahaan tersebut memiliki histori pendapatan yang kuat?
  2. Apakah perusahaan tersebut mempunyai proyeksi pertumbuhan pendapatan yang kuat dalam 5 tahun mendatang?
  3. Apakah manajemen perusahaan aktif dalam usaha menekan biaya dan memperbesar pendapatan?
  4. Dapatkah manajemen menjalankan bisnisnya dengan efisien?
  5. Apakah saham tersebut dapat menjadi dua kali lipat dalam waktu paling lama 10 tahun?

Jika kelima pertanyaan tersebut dapat terjawab dengan baik pada profil usaha maupun laporan keuangan, maka saham terebut layak untuk segera dimasukkan ke dalam portofolio investasi.

Nah, demikianlah 2 jenis investor yang kita bahas pada artikel kali ini. Untuk dua jenis investor lainnya akan menyusul pada artikel besok. 

Happy Cuan everyone!!! 

Related posts

SERIAL SAHAM – EMPAT JENIS INVESTOR (PART 2)

admin

LIMA – 5 CARA MENENTUKAN SUPPORT AND RESISTANCE

admin

How To Do A Technical Analysis

admin

Leave a Comment