Analisis Teknikal Education

LIMA – 5 CARA MENENTUKAN SUPPORT AND RESISTANCE

YUK!! TENTUKAN SUPPORT AND RESISTANCE

Holla all people of the internet!!
As I promised yesterday, pada postingan kali ini aku akan melanjutkan pembahasan tentang alas dan atap a.k.a support and resistance. Aku yakin rekan-rekan sekalian sudah bisa mulai memahami apa definisi dari dua istilah tersebut, namun apakah kalian sudah mahir dalam menentukan mana batas atas dan bawah saham? Yuk cusss ikuti pembahasan di bawah ini :

1. MENARIK GARIS MANUAL
Cara ini paling sederhana dan dapat dilakukan hanya dengan tiga langkah di bawah ini :
Temukan history pergerakan harga saham pada rentang waktu tertentu, mis. 3 bulan atau 6 bulan.
Carilah titik tertinggi dan terendah dari pergerakan saham tersebut
Setelah menemukan titik tertinggi dan terendah, maka tariklah garis horizontal
Untuk lebih jelasnya, perhatikan gambar di bawah ini :
Bagaimana? Sudah lebih paham kan? Cara ini memang merupakan cara untuk menentukan support and resistance yang bisa dibilang paling mudah dan berguna untuk memberikan gambaran arah harga di masa mendatang.
Nah selain menarik garis secara horizontal, cara sederhana yang kedua adalah dengan menarik garis miring (diagonal) dan membentuk garis trendline (upward or downward). Sama halnya dengan garis horizontal, cukup lakukan tiga langkah sebagai berikut :
Temukan 2 atau lebih titik tertinggi dan terendah
Setelah menemukannya, hubungkan kedua titik tertinggi dan terendah tersebut
Hubungkan titik-titik tersebut dengan menarik garis miring (diagonal).
Jika kita sudah terbiasa dan terlatih untuk mengamati mana titik tertinggi dan terendah, maka penentuan support and resistance akan semakin mudah untuk dilakukan.

2. MENGGUNAKAN ANGKA BULAT
Percaya atau tidak, kebanyakan pembeli dan penjual merasa lebih mudah untuk memasang harga di angka-angka bulat layaknya Rp 50, 200, 500, 5.000, 10.000 dan angka bulat lainnya. Angka-angka bulat ini menjadi penting dalam penentuan support and resistance karena sering mewakili titik balik psikologis dalam pembuatan keputusan beli dan jual.
Ketika harga telah menyentuh angka bulat, biasanya akan tertahan pada poin tersebut dan cenderung lebih sulit untuk turun ataupun naik lebih jauh. Hal inilah yang pada akhirnya akan meningkatkan tekanan beli dan jual dan kemudian membentuk alas dan atap dari sebuah harga saham.

3. MENGGUNAKAN MOVING AVERAGE
Hal yang perlu dipahami adalah ketika kita menggunakan analisis teknikal, maka keahlian yang dibutuhkan tidak hanya memahami candlestick chart , melainkan pula harus didukung dengan pemahaman atas indikator lainnya. Salah satu indikator yang menjadi sobat karib dari para analis adalah Moving Average (MA). MA memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi support and resistance seperti yang terdapat pada gambar di bawah ini :

4. MENGGUNAKAN PERHITUNGAN PIVOT POINT
Jika tadi kita harus melihat secara visual untuk menentukan support and resitstance, maka cara yang keempat ini mengharuskan kita untuk melakukan perhitungan dengan rumus sebagai berikut :
Resistance 3 – (R3) = H + 2 x (P – L)
Resistance 2 – (R2) = P + (R1 – S1) atau P + (H – L)
Resistance 1 – (R1) = (P x 2) – L
Pivot Point – (P) = (H + L + C) / 3
Support 1 – (S1) = (P x 2) – H
Support 2 – (S2) = P – (R1 – S1) atau P – (H – L)
Support 3 – (S3) = L – 2 x (H – P)

Keterangan :
R = Resistance
S = Support
P = Pivot Point
O = Open (Harga pembukaan hari ini)
H = High (Harga tertinggi hari sebelumnya)
L = Low (Harga terendah hari sebelumnya)
C = Close (Harga penutupan hari sebelumnya)

Memang terkesan agak rumit. Namun demikian, tak jarang para analis menggunakan rumus perhitungan ini untuk mendukung hasil analisis mereka mengenai support and resistance.
Nilai yang dimasukkan dalam perhitungan pivot point adalah nilai dari harga hari sebelumnya. Misalnya bila ingin menghitung pivot besok, maka data harga pada hari ini yang dimasukkan. Bila keesokan harinya:
Harga dibuka di atas P atau R1, maka dapat dikatakan market Kemungkinan akan melanjutkan kenaikan bila sedang tren naik. Kemungkinan untuk pembalikan arah bila tren sedang turun.
Harga dibuka di bawah P atau S1, maka dikatakan market sedang lemah. Kemungkinan akan melanjutkan penurunan bila sedang trend turun. Kemungkinan untuk pembalikan arah bila tren sedang naik.
Harga dibuka di atas R1 menuju R2 dan seterusnya, dalam keadaan tren naik, maka harga dapat dikatakan dibuka terlalu mahal dan kemungkinan akan mengalami koreksi untuk bisa melanjutkan kenaikan. Dalam tren turun, menjadi tanda awal pembalikan arah.
Harga dibuka di bawah S1 menuju S2 dan seterusnya, dalam keadaan tren turun, maka harga dapat dikatakan dibuka terlalu murah dan kemungkinan akan mengalami kenaikan sebelum melanjutkan penurunan. Dalam tren naik, menjadi tanda awal pembalikan arah.

5. MENGGUNAKAN FIBONACCI RETRACEMENT
Indikator ini juga sangat sering digunakan oleh para analis untuk mengonfirmasi arah gerak harga dalam grafik. Cara menarik Fibonacci antara lain :
Temukan titik tertinggi dan terendah pada rentang periode tertentu
Hubungkan titik-titik tersebut
Tentukan jarak antara kedua titik tersebut dan hitung pada posisi 0% ; 23,6% ; 38,2% ; 50% ; 61,8% ; 78,6% ; 100%.
Ketika kita menarik garis antar titik tertinggi dan terendah, maka terdapat garis-garis yang berfungsi sebagai support and resistance serta kita akan mendapatkan gambaran mengenai peluang kenaikan dan penurunan harga pada masa yang akan datang. Jika garis Fibonacci berada di bawah harga, maka akan berperan sebagai support dan jika di atas harga, maka akan berfungsi sebagai resistance. Untuk lebih jelasnya, yuk tengok gambar di bawah ini :

Nah, rekan-rekan sekalian sudah lebih jelas tentang cara menentukan support and resistance, bukan? Setiap analis pasti memiliki cara tersendiri dalam menentukan batas atas dan bawah. Jadi, kita semua juga jangan ragu untuk menemukan cara yang paling nyaman untuk diri sendiri. Salam Profit!! Have a nice day!!

Related posts

How to train the trader’s mental?

Editor

How To Do A Technical Analysis

admin

SERIAL SAHAM – EMPAT JENIS INVESTOR (PART 2)

admin

Leave a Comment